Bersama Kita Bisa…Bersama Kita Mudah

Belajar menurut pandangan konstruktivistik adalah lebih dari sekedar mengingat. Seseorang yang memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka harus mampu memecahkan masalah sendiri, menemukan (discovery) sesuatu untuk dirinya sendiri, dan berkutat dengan berbagai gagasan. Inti sari teori konstruktivisme adalah bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya sendiri. Teori ini memandang siswa sebagai individu yang selalu memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan prinsip-prinsip yang telah ada dan merevisi prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap tidak dapat digunakan lagi (Anni dkk., 2004: 50)

Pembelajaran dengan penemuan (inquiry) merupakan satu komponen penting dalam melakukan pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi dan pembinaan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan/ inquiry, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dan mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk mereka sendiri (Nurhadi, 2003: 71). Sistem belajar inquiry dan dicovery mendorong siswa untuk terlibat aktif terhadap konsep dan prinsip-prinsip sedangkan guru mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melaksanakan eksperimen yang memungkinkan siswa menemukan konsep untuk dirinya sendiri

Metode belajar akan lebih efektif jika disertai dengan pendekatan pembelajaran karena metode dan pendekatan pembelajaran memiliki peran yang penting dalam proses belajar mengajar. Memes (2000: 39) mengemukakan beberapa pendekatan yang biasa dan cocok untuk IPA adalah pendekatan konsep, keterampilan proses, pendekatan discovery/ inkuiri serta pendekatan induktif dan deduktif

1. Pendekatan Konsep dan pendekatan Proses

Konsep adalah suatu ide atau gagasan yang digeneralisasikan dari pengalaman manusia dengan beberapa peristiwa benda dan fakta. Konsep itu adalah hasil berfikir manusia yang merangkum beberapa pengalaman (Memes, 2000: 40). Konsep dalam fisika sangat penting untuk memperoleh dan mengkomunikasikan pengetahuan. Dengan menguasai konsep-konsep kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan baru pada siswa tidak terbatas. Salah satu keunggulan dari model pencapaian konsep ini ialah dalam meningkatkan kemampuan untuk belajar dengan cara lebih mudah dan lebih efektif di masa depan (Winataputra, 1992: 35).

2. Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran IPA yang beranggapan bahwa IPA itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah yang juga harus dikembangkan pada peserta didik sebagai pengalaman yang bermakna yang dapat digunakan sebagai bekal.

3. Pendekatan Diskaveri (Inkuiri)

Cara menemukan sendiri atau diskaveri ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada peserta didik untuk memperoleh pengalaman, penyelidikan sendiri masalah-masalah dengan menggunakan keterampilan-keterampilan yang sesuai dengan metode ilmiah. Bagi seorang siswa untuk membuat penemuanpenemuan ia harus melakukan proses-proses mantal, misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, menarik kesimpulan dan sebagainya. Pengajaran “discovery” harus meliputi pengalamanpengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses “discovery”.”Inquiry” dibentuk dan meliputi “discovery” karena siswa harusmenggunakan kemampuan-kemampuan “discovery” dan lebih banyak lagi (Amien, 1987:126). Inkuiri dapat dibagi menjadi beberapa macam tergantung keterlibatan guru. Makin sedikit partisipasi guru dalam pembelajaran makin bebaslah siswa itu. Inkuiri bebas bila pembelajaran tidak ada keterlibatan guru sama sekali. Jika betul-betul guru memimpinnya dari merumuskan masalah sampai mengambil keputusan maka disebut inkuiri terpimpin.

4. Pendekatan Induktif dan Deduktif

Model berfikir induktif dirancang dan dikembangkan oleh Hilda Toba dengan tujuan untuk mendorong para pelajar menemukan dan mengorganisasikan informasi, menciptakan nama suatu konsep, dan menjajagi berbagai cara yang dapat menjadikan para pelajar lebih terampil dalam menyingkap dan mengorganisasikan informasi dan dalam melakukan pengetesan hipotesis yang melukiskan antar hal (Winataputra , 1992: 35-36).  Pada pendekatan induktif ini dimulai dengan memberikan bermacammacam contoh. Dari contoh-contoh tersebut siswa mengerti keteraturan dan kemudian mengambil keputusan/kesimpulan yang bersifat umum. Sebaliknya yang disebut dengan pendekatan deduktif pembelajaran adalah yang mulai dengan memberikan sesuatu yang bersifat umum, kemudian peserta didik diminta memberikan contoh-contoh yang sesuai dengan pernyataan semula (Memes, 2000: 43-44). Pembelajaran akan mudah diingat oleh siswa jika disertai dengan contoh-contoh kongkrit yang dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran akan efektif jika disesuaikan dengan lingkangan siswa dalam kesehariannya sehingga akan mudah dipahami

Perkembangan sains saat ini telah melaju dengan pesat dan erat hubungannya dengan perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi memberikan wahana yang memungkinkan sains berkembang dengan pesat. Hal ini menggugah para pendidik untuk dapat merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah pada penguasaan konsep sains, yang dapat bermanfaat dalam kegiatan sehari-hari di masyarakat. Untuk dapat menyesuaikan perkembangan sains, kreatifitas sumber daya manusia merupakan syarat mutlak untuk ditingkatkan. Jalur yang tepat dan sesuai untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui jalur pendidikan

Hakikat belajar sains tentu saja tidak cukup sekadar mengingat dan memahami konsep yang ditemukan oleh ilmuwan. Akan tetapi, yang sangat penting adalah pembiasaan perilaku ilmuwan dalam menemukan konsep yang dilakukan melalui percobaan dan penelitian ilmiah. Proses penemuan konsep yang melibatkan keterampilan-keterampilan yang mendasar melalui percobaan ilmiah dapat dilaksanakan dan ditingkatkan melalui kegiatan laboratorium.

Ada beberapa sebab yang melandasi penerapan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar (Semiawan, 1992).

  1. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Karena terdesak waktu untuk mengejar ketercapaian kurikulum, maka guru akan memilih jalan yang termudah yakni menginformasikan fakta dan konsep melalui metode ceramah. Akibatnya para siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih untuk menemukan konsep, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
  2. Anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan menyerahkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata.
  3. Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relativ tetapi masih terbuka untuk diperbaiki.
  4. Dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik.

Dimyati & Mudjiono (1999:139) mengemukakan tentang pendekatan keterampilan proses adalah sebagai berikut.

  1. Pendekatan keterampilan proses sebagai wahana penemuan dan pengembangan fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri siswa.
  2. Fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan siswa berperan pula menunjang pengembangan keterampilan proses pada diri siswa.
  3. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan fakta, konsep, serta ilmu pengetahuan, pada akhirnya akan mengembangkan sikap dan nilai ilmuwan pada diri siswa.

Pendekatan keterampilan proses menekankan bagaimana siswa belajar, bagaimana mengelola perolehannya, sehingga mudah dipahami dan digunakan dalam kehidupan di masyarakat. Dalam proses pembelajaran diusahakan agar siswa memperoleh pengalaman dan pengetahuan sendiri, melakukan penyelidikan ilmiah, melatih kemampuan-kemampuan intelektualnya, dan merangsang keingintahuan serta dapat memotivasi kemampuannya untuk meningkatkan pengetahuan yang baru diperolehnya. Dengan mengembangkan keterampilan–keterampilan memproseskan perolehan anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep, serta penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai (Semiawan, 1992: 18)

Model Pembelajaran Praktikum untuk meningkatkan kemampuan berpikir formal siswa dalam penelitian ini, memberikan pengalaman belajar siswa melalui praktikum dengan menggunakan tiga macam siklus belajar: deskriptif, empirisinduktif dan hipotetis-deduktif (Lawson, 1994). Ketiga siklus ini menunjukkan suatu kontinuum dari sains deskriptif hingga sains eksperimental. Siklus belajar deskriptif membutuhkan hanya pola-pola deskriptif (yaitu: seriasi, klasifikasi, konservasi); siklus belajar hipotetis-deduktif membutuhkan pola-pola tingkat-tinggi (yaitu: pengontrolan variabel, penalaran korelasional, penalaran hipotetis-deduktif). Siklus belajar empiris-induktif bersifat intermediate dan membutuhkan pola-pola penalaran deskriptif.

Kemampuan-kemampuan yang dikembangkan melalui praktikum hendaknya tertuang dalam proses sains yang meliputi : 1) perencanaan : menuangkan ide-ide yang dapat diuji, mendesain penyelidikan; 2) penampilan : memanipulasi, observasi, dan pengumpulan data; 3) interpretasi : pengolahan data, penarikan kesimpulan, penerapan konsep; dan 4) komunikasi : melaporkan dan menerima informasi (Josephy dalam Nakhleh, 1994)

Keterampilan proses sains itu ialah keterampilan berpikir, antara lain: 1)mengamati; 2) menafsirkan pengamatan; 3)meramalkan; 4) menggunakan alat dan bahan; 5) menerapkan konsep; 6) merencanakan penelitian; 7) berkomunikasi (Dahar, 2003)

Mengamati merupakan suatu keterampilan berpikir fundamental yang menjadi dasar utama dari pertumbuhan sains. Mengamati merupakan suatu kemampuan menggunakan semua indera yang harus dimiliki oleh setiap orang. Dalam kegiatan ilmiah mengamati berarti memilih fakta-fakta yang relevan dengan tugas tertentu dari hal-hal yang diamati, atau memilih fakta-fakta untuk menafsirkan peristiwa tertentu. Dengan membandingkan hal-hal yang diamati, berkembang kemampuan untuk mencari persamaan dan perbedaan.

Menafsirkan pengamatan, hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak ditafsirkan. Karena itu dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap pengamatan secara terpisah, kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil pengamatan itu, lalu mungkin ditemukan pola-pola tertentu dalam satu seri pengamatan. Penemuan pola ini merupakan dasar untuk menyarankan kesimpulan-kesimpulan atau generalisasigeneralisasi. Kemampuan untuk menemukan pola-pola ini merupakan kegiatan ilmiah yang perlu dikembangkan pada siswa sedini mungkin. Sains tidak akan demikian pesat berkembang bila dalam sains tidak dikenal istilah meramalkan. Karena itu meramalkan merupakan salah satu kemampuan penting dalam sains. Dengan menggunakan pola yang ditemukan dari salah satu seri pengamatan, para ilmuwan mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang akan datang, atau yang belum diamati. Jadi, bertitik tolak dari menafsirkan hasil-hasil pengamatan dapat dikembangkan kemampuan untuk meramalkan yang merupakan salah satu contoh mengambil kesimpulan atau inferensi.

Proses peramalan merupakan suatu proses penalaran yang berdasarkan pengamatan. Melakukan percobaan dalam sains membutuhkan alat dan bahan. Berhasilnya suatu percobaan kerapkali tergantung pada kemampuan memilih dan menggunakan alat yang tepat secara efektif. Pengalaman menggunakan alat dan bahan merupakan pengalaman konkrit yang dibutuhkan siswa untuk menerima gagasan-gagasan baru. Suatu syarat penting dalam belajar bagi siswa yang masih pada tingkat operasional konkrit itu.

Menerapkan konsep merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau menerapkan konsep itu pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi merupakan tujuan pendidikan sains yang penting. Dalam menerapkan konsep untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, perlu dianggap bahwa setiap penjelasan yang diberikan itu bersifat sementara, dan dapat diuji, jadi berupa hipotesis. Kerap kali dapat disarankan beberapa alternative hipotesis, semuanya menunjang kenyataan, tetapi perlu disadari siswa, bahwa hipotesis-hipotesis itu harus diuji. Kemampuan untuk merencanakan suatu penelitian merupakan suatu unsur yang penting dalam kegiatan ilmiah. Setelah melihat suatu pola atau hubungan dari pengamatan-pengamatan yang dilakukan, perlu kesimpulan sementara atau hipotesis yang dirumuskan itu diuji. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk merencanakan suatu percobaan yang meliputi kemampuan untuk menentukan alatalat dan bahan-bahan yang akan digunakan, menentukan variabel-variabel menentukan yang mana di antara variabel-variabel itu harus dibuat tetap, bagaimana mengolah hasil-hasil pengamatan untuk mengambil kesimpulan, merupakan kegiatan-kegiatan yang perlu dilatihkan sejak dini.

Sains terbuka bagi semua orang yang mampu memahaminya, dan dinilai oleh siapa saja yang mau menilainya. Sebagai implikasinya, para ilmuwan diharapkan menguraikan secara jelas dan cermat apa yang telah mereka lakukan, sehingga dapat diuji oleh para ilmuwan lain. Karena itu dalam pendidikan sains siswa-siswa sejak dini dilatih untuk dapat melaporkan hasil-hasil percobaannya secara sistematis dan jelas. Juga diharapkan mereka dapat menjelaskan hasil-hasil percobaan mereka pada teman-temannya, mendiskusikanya, dan menggambarkan hasil pengamatannya dalam bentuk grafik, tabel dan diagram. Semua kegiatan ini termasuk kemampuan berkomunikasi, suatu kemampuan yang perlu dikembangkan dalam mendidik calon-calon ilmuwan masa yang akan datang.

Gronlund memberikan pandangan bahwa kemampuan yang dikembangkan dalam praktikum hendaknya bersifat student-oriented dan product-oriented (Gronlund dalam Odubunmi & Balogun, 1991). Karena itu hasil belajar melalui praktikum hendaknya jelas dan dituangkan dalam rumusan-rumusan tujuan khusus yang rasional disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Secara rinci Gronlund merumuskan tujuan umum dan khusus yang hendaknya dicapai dalam praktikum adalah : memecahkan masalah; menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam situasi yang tidak biasa; mendisain eksperimen sederhana untuk menguji hipotesis; menggunakan keterampilan laboratorium dalam menampilkan eksperimen sederhana; menginterpretasi data eksperimen; serta memberi gambaran jelas tentang eksperimen.

Sains bertujuan menjelaskan fenomena alam, oleh karena itu cara belajar sains harus melibatkan siswa pada pengalaman, yang dikenal dengan istilah hads-on sehingga terjadi minds-on (Carin, 1997). Melalui pembelajaran sains dapat dibangun berbagai keterampilan berpikir tingkat tinggi. Adapun kekuatan pembelajaran sains untuk membangun kemampuan berpikir siswa terletak pada kemampuan merumuskan hipotesis, yang memacu dikembangkannya berbagai kemampuan berpikir siswa. Kemampuan berpikir ini kurang dapat berkembang pada pembelajaran sains tanpa eksperimen atau praktikum, seperti halnya pembelajaran sains yang ditemukan di sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya (Liliasari, 2005)

Sumber Refernsi:

Anni, C.T, A. Rifa’i, E. Purwanto, dan D. Purnomo. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: Universitas Negeri Semarang Perss.

Carin, Arthur A., (1997), Teaching Modern Science, Seventh Edition, New Jersey : Prentice-Hall, Inc.

Dahar, R.W., (2003), Aneka Wacana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Bandung : Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Liliasari, (2005), Membangun keterampilan berpikir manusia Indonesia melalui pendidikan sains, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan IPA pada FPMIPA UPI, UPI

Nakhleh, Mary B. (1994). Chemical education research in the laboratory environment : How can research uncover, What student are learning?. Journal of Chemical Education, 17, (3), 201-205

Semiawan, C. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Odubunmi, Olagunju and T. A. Balogun (1991). The effect of laboratory and lecture teaching methods on cognitive achievement in integrated science. Editor Ronald G. Good. Journal of Research in Science Teaching, 28, (3), 213-224

Winataputra, U. 1992. Strategi Belajar Mengajar IPA. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Susiwi, Achmad A.Hindua2, Liliasari, Sadijah Ahmad. 2009. Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Sma Pada “Model Pembelajaran Praktikum D-E-H”. Jurnal Pengajaran MIPA, Vol. 14

Comments on: "KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN SAINS" (11)

  1. maksih ya ka atas penambahan informasinya,,,,

  2. mkch ya ka, informasinya good…

  3. mau cari jurnal tentang keterampilan sains kok susah ya,,bisakah membantu

  4. KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA PEMBELAJARAN BIO SEPERTI APA

  5. Nur ifTa PutRi said:

    Terima ksih ya
    kalau penggunaan metode praktikum dngn pendekatan guided inqury utk meningktkn KPS fisika sperti apa ya? Tolong,. Ya
    terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: