Bersama Kita Bisa…Bersama Kita Mudah

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Disisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik. Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreativitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreativitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar. Namun tidak semua kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancer sesuai dengan yang dikehendakai. Pasti banyak masalah dengan segala macam kekompleksitasannya yang akan kita temukan.

Dengan demikian pada artikel kali ini akan dibahas beberapa masalah yang ditemukan dalam kehidupan belajar mengajar sehari hari. Bisa juga dikatakan kompleksitas dalam proses belajar mengajar. Disini akan kita temukan masalah-masalah yang sering dihadapi pada kelas-kelas konvensional, masalah pada pelaksanaan pelajaran dan masalah dalam peninjauan pelajaran. Tentunya kesemua materi ini yang ada disini sudah banyak yang ditemukan di dunia pendidikan di Indonesia.

A. Masalah pada Kelas Konvensional

Salah satu masalah pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah  adalah masih adanya pola pembelajaran teoritis dan kurang bervariasi. Selain itu, kegiatan  pembelajaran  di kelas  sering  textbook  oriented  dan kurang  mengaitkan dengan  lingkungan dan  situasi  dimana  siswa berada.  Berdasarkan  hasil  observasi, dalam proses  pembelajaran banyak guru-guru masih sering menggunakan  model  ceramah dan pernah  menggunakan diskusi  sederhana  yang kurang bervariasi, sehingga  siswa sering  merasa bosan  dan  jenuh  pada  akhirnya hasil belajarnya pun kurang maksimal.  Namun karena  perkembangan zaman, maka metode konvensional dengan  ceramah  dan  tanya  jawab sudah  tidak  relevan digunakan.

Dalam kelas-kelas konvensional, model perkuliahan merupakan model pelajaran yang paling sering digunakan. Seorang guru berdiri di depan kelas dan terus berbicara kepada siswanya sambil memegang buku teks di salah satu tangannya, dan kapur atau spidol di tangan lainnya. Ekspresi wajah guru biasanya tegas, sementara suaranya terdengar keras dan lantang. Siswa terus mendengarkan gurunya dengan diam. Sangat jarang ditemukan siswa yang bertanya atau mengungkapkan pendapat mereka selama kelas berlangsung. Banyak guru percaya bahwa kelas semacam ini, yaitu dimana siswa mengangkat tangan dengan cepat dan menjawab dengan benar tepat setelah guru melontarkan pertanyaan, serta siswa akan menjawab “Ya” secara serempak ketika guru bertanya “Apakah kalian mengerti?” merupakan contoh terbaik. Kelas semacam ini terlihat berjalan dengan lancar dan berdisiplin. Namun, siswa berada dalam ketegangan yang sangat hebat dan kebanyakan dari mereka tertinggal selama pelajaran, khususnya siswa yang lamban pemahamannya. Hanya siswa yang mampu paham dengan cepat saja yang dapat bertahan dalam kelas semacam ini

Pada kelas sperti ini, fokus utama guru adalah bagaimana mentransfer berbagai macam informasi yang tercantum pada buku teks kepada siswa secara tepat dan efisien. Guru berkonsentrasi pada Rencana Pembelajaran (RPP) dan mencoba mengajarkan apa saja yang tercantum dalam Rencana Pembelajaran tersebut. Guru tidak pernah berpikir tentang minat atau perhatian siswa selama pelajaran berlangsung. Guru juga tidak pernah berpikir pada saat beliau mengajar tentang bagaimana informasi-informasi tersebut berkaitan dengan pengalaman sehari-hari siswa atau bagaimana informasi-informasi tersebut dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Tujuan akhir guru hanyalah untuk memberitahu siswanya tentang apa yang seharusnya beliau ajarkan dalam batasan waktu tertentu. Siswa hanya berkonsentrasi untuk menghapal apa yang guru mereka katakan. Karena itu, mereka mulai berpikir bahwa menghapal merupakan cara belajar terbaik dan merupakan hal yang diiginkan oleh guru mereka. Mereka mulai mencoba untuk menghapalkan apapun tanpa pemikiran atau pemahaman yang mendalam. Dalam situasi semacam ini, banyak siswa tidak dapat memahami tujuan dari belajar dan beberapa dari mereka mungkin mulai bertanya pada diri sendiri: “Mengapa kita harus duduk diam dan mendengarkan guru dalam kelas yang tidak menyenangkan setiap hari?” ”Mengapa kita harus mempelajari hal-hal yang membosankan setiap hari?” “Apa manfaat yang kita dapatkan setelah mempelajari hal-hal ini?” dsb. Sayang sekali, siswa tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengalami pelajaran yang menyenangkan. Tingkat pemahaman mereka tidak pernah cukup mendalam, melainkan hanya pemahaman yang dangkal saja, karena mereka hanya menyentuh permukaan dari suatu topik saja.

Masalah-masalah pada Pelaksanaan Kelas Saat Ini

Untuk membahas kendala yang muncul dalam pelaksanaan kelas saat ini. Untuk membuat pembahasan ini lebih nyata, perhatikanlah contoh yang kita ambil adalah kelas Bahasa Inggris untuk kelas 1 SMP, yang telah dilaksanakan pada salah satu sekolah di Sulawesi Selatan pada bulan Maret 2009. Topik pelajarannya adalah ”Simple Past Tense”. Kerangka pelaksanaan pelajaran tersebut adalah sebagai berikut;

Ada 24 orang siswa di dalam kelas tersebut. Pada ruang kelas tersebut, meja diatur membentuk huruf ”U”. Guru berdiri di depan kelas. Pada awal kelas, seorang siswa laki-laki memberi aba-aba untuk siswa lainnya, ”Stand up!” lalu, ”Pray”. Untuk beberapa saat semua siswa berdoa. Setelah itu pelajaran dimulai dengan ucapan salam “Good morning, Mom.” Guru nampak sangat antusias. “Pada pelajaran yang lalu, apa yang kita telah pelajari? Ada yang masih ingat?” kata gurunya. Beberapa orang siswa menjawab dengan segera, “Kita belajar Past Tense”. Guru berkata, ”Ya” dan kemudian melanjutkan, ”Hari ini, kita juga masih mempelajari tentang simple past tense.” Kemudian guru menempelkan sebuah kertas besar di papan tulis. Pada kertas tersebut terdapat tiga pola kalimat past tense yang dituliskan seperti ini;

positive: subject + verb (simple pas tense)…..

negative: subject+did not+ verb (present tense)…..

quistion: did + subject + verb (present tense)…….

Guru menjelaskan tiga pola kalimat tersebut. Siswa menyimak penjelasan guru, namun nampaknya mereka tidak memahami dengan baik. Sebaliknya, mereka terlihat bingung. Beberapa orang siswa menunjukkan ekspresi wajah bahwa mereka tidak tertarik. Ada beberapa orang siswa yang nampak konsentrasinya telah buyar. Namun, guru tidak menyadari situasi ini dan terus memberikan penjelasan.

Setelah memberikan penjelasan, guru mulai memberikan permainan kecil. Ia berkata, ”Saya telah menyiapkan beberapa kartu dengan satu kata kerja tertulis pada setiap kartu. Siswa yang mendapatkan kartu tersebut harus membuat tiga bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja yang tercantum pada kartu tersebut. Apakah semuanya sudah paham?” Ia nampak sangat bersemangat dan suaranya menjadi semakin lantang juga. Namun, sayang sekali, tak ada respon yang jelas yang diberikan oleh siswa. Kebanyakan dari mereka nampak tidak tertarik dalam permainan ini. Sebaliknya, mereka nampak bingung mengenai apa yang harus dikerjakan. Namun, guru masih belum menyadari situasi ini. Setelah memberikan penjelasan, guru memberikan kartu kepada seorang siswa laki-laki. Siswa tersebut sangat terkejut dan kemudian mencoba membuat kalimatnya. Namun ia tidak dapat membuat kalimat yang baik secepat itu. Melihat sikap siswa ini, guru mendekatinya dan meminta siswa ini untuk bergegas dengan memukul-mukul meja siswa ini. Akhirnya, siswa ini melangkah ke depan dan mulai menuliskan jawabannya di papan tulis. Ia menuliskan “I eat a dinner.” Guru langsung berkata dengan tegas padanya, “Kata kerjanya harus dalam bentuk past tense! Apakah ”eat” itu past tense?” Si siswa dengan perasaan malu menghapus tulisannya dan menuliskan ulang, “I eated a dinner.” Sekali lagi guru berkata dengan tegas kepadanya, ”’eat’ adalah kata kerja tak beraturan! Bentuk past tense-nya harusnya ’ate’.” Siswa ini sangat malu. Kemudian ia menuliskan, “I did not ate a dinner.” Gurunya menegur lagi, “Lihat rumusnya! Pada kalimat negatif, kata kerja harusnya dalam bentuk present tense

Setelah siswa laki-laki tadi, seorang siswa perempuan kemudian ditunjuk. Pada kartunya, tercantum kata kerja “come”. Ia menuju ke depan dan mulai menuliskan jawabannya. “I come to a park.” Begitu melihat jawaban siswi ini, guru dengan cepat berkata dengan keras, “Apakah ‘come’ itu bentuk past tense?” Siswi itu kemudian menghapus jawabannya dan menuliskan ”came” dengan cepat. Setelah siswi tersebut, siwa lain kemudian ditunjuk lagi dan meneruskan permainan ini. Untuk beberapa saat, terlihat percakapan serupa antara guru dan siswa-siswa yang ditunjuk. Selama masa tersebut, siswa lain tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya menonton hal-hal yang terjadi antara guru dan siswa-siswa tertentu di depan kelas.

Setelah permainan ini, guru membagikan LKS untuk masing-masing siswa. Pada LKS ini, terdiri dari beberapa latihan. Guru berkata, ”Sekarang, silahkan mulai kerjakan latihan-latihan yang ada pada LKS tersebut. Kalian bisa melihat kamus jika menemui kata-kata yang tidak kalian ketahui.” Siswa-siswa pun mulai mengerjakan latihan-latihan tersebut. Tapi kebanyakan mereka tidak memahami banyak kata-kata dalam latihan tersebut. Mereka menggunakan kamus untuk mencari arti setiap kata satu demi satu. Pada saat itu, seorang siswa bertanya pada guru, ”Apakah kita harus menuliskan arti dari setiap kalimat?” Guru berkata, ”Tidak. Cukup tuliskan jawabannya saja.” Siswa mencoba menjawab latihan tersebut, namun kebanyakan dari mereka tidak mengetahui bagaimana mengerjakannya. Meskipun guru mengelilingi kelas untuk memeriksa bagaimana siswa mengerjakan latihan tersebut, namun nampaknya ia tidak memperhatikan penmbelajaran siswa, sebaliknya ia hanya mengamati apa yang siswa tulis. Setelah berkeliling kelas beberapa kali, guru duduk di kursinya dan mulai memeriksa kehadiran siswa. Ia menyebutkan nama siswa satu per satu. Untuk merespon guru, siswa menjawab, ”Hadir.”

Setelah beberapa saat, guru bertanya pada siswa, “Semuanya sudah selesai?” Beberapa orang siswa berkata, ”Sudah,” tapi sisanya menjawab, ”Belum.” Guru memberitahu mereka, ”Saya akan memberikan waktu 3 menit. Setelah itu kalian harus mengumpulkannya.” Siswa-siswa yang belum selesai, benar-benar terburu-buru untuk menyelesaikan latihan tersebut. Akhirnya, waktu habis. Guru mengumpulkan seluruh LKS.

Menyimak LKS tersebut, ada banyak kesalahan yang ditemukan di dalamnya. Bukan hanya kesalahan bentuk kata kerja, namun juga kesalahan pengejaan, kesalahan gramatikal, penggunaan huruf besar, dll

Dari ilustrasi cerita diatas, terdapat beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran diatas, antara lain:

  1. Siswa tidak memahami dengan baik penjelasan guru, terlihat bingung, siswa menunjukkan ekspresi wajah bahwa mereka tidak tertarik, siswa yang nampak konsentrasinya telah buyar. Namun, guru tidak menyadari situasi ini dan terus memberikan penjelasan. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang sebenarnya juga justru membuat siswa makin bingung dengan materi yang sedang diajarkan.
  2. Guru bersikap emosi saat siswa tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru

Masalah pada Persiapan Pelajaran

Mula-mula, masalah apa yang terjadi selama persiapan pelajaran? Untuk menemukan masalah tersebut, kita akan meninjau Rencana Pembelajarannya secara seksama. Diantara masalah-masalah yang ada, kita akan membahas masalah yang paling utama, yang dapat mempengaruhi kualitas pelajaran. Masalah tersebut, yaitu: (1) Tidak ada hubungan antara kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran, (2) Tidak ada penjabaran yang jelas tentang kegiatan pembelajaran, dan (3) Evaluasi (penilaian) yang bermasalah

(1) Kompetensi Dasar dan Tujuan Pembelajaran Tidak Berkaitan

Dalam sebuah Rencana Pembelajaran, biasanya ada dua kompetensi yang harusnya dicapai siswa; Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Kompetensi menjadi kunci mengajarkan serangkaian pelajaran pada satu topik. Tujuan pembelajaran yang disusun harus berkaitan langsung dengan kompetensi tersebut. Namun, pada Rencana Pembelajaran tadi, nampaknya antara kompetensi dan tujuan pembelajaran tidak saling berkaitan. Ini berarti bahwa Rencana Pembelajaran itu disusun tanpa analisis yang cermat terhadap topik dan pemahaman terhadap serangkaian pelajaran yang terdapat pada topik tersebut. Sebaliknya, Rencana Pembelajaran itu kemungkinan disusun hanya berfokus pada pelajaran hari itu saja. Sebagai hasilnya, pelajaran ini nampaknya tertutup dan terpisah dari pelajaran lainnya dan tidak nampak keterkaitan yang jelas antar pelajaran tersebut.

(2) Tidak Ada Penjabaran yang Jelas mengenai Kegiatan Pembelajaran

Cermatilah bagian ”Kegiatan Pembelajaran” pada Rencana Pembelajaran tersebut, hanya terdapat penjelasan singkat mengenai apa yang guru akan lakukan selama pelajaran. Khususnya bagian ”Kegiatan Inti” hanya terdapat dua baris penjabaran; ”Membuat kalimat sederhana yang berkaitan dengan tema” dan ”Mendiskusikan kata-kata yang dipakai dalam teks untuk dipelajari.” Hal ini tidak memberikan gambaran yang jelas bagi kita tentang kalimat sederhana apa yang seharusnya siswa buat dan kata-kata apa yang akan mereka diskusikan. Secara umum, kegiatan inti merupakan bagian terpenting pada suatu pelajaran. Bagian tersebut merupakan jantung dari suatu pelajaran. Karena itu, sangat penting untuk memberikan penjabaran yang jelas tentang kegiatan apa yang akan dilaksanakan, respon seperti apa yang diharapkan dari siswa, dan dukungan serta bantuan apa yang akan diberikan oleh guru. Sangat disayangkan Rencana Pembelajaran tersebut tidak menunjukkan ide yang jelas tentang kegiatan pembelajaran siswa.

Dari penjabaran pada kegiatan pembelajaran ini, kita dapat dengan mudah menilai bahwa Rencana Pembelajaran tersebut dikembangkan dengan hanya berfokus pada proses  pengajaran saja (atau kita sebut sebagai tahapan pengajaran), yaitu apa yang guru lakukan selama pelajaran berlangsung. Hal itu dibuat tanpa pertimbangan yang cermat tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, kesulitan apa yang mungkin terjadi pada pembelajaran siswa, dan dukungan macam apa yang diperlukan, dll. Di dalam kelas, jika pertimbangan-pertimbangan tadi kurang dilakukan, dapat menimbulkan banyak masalah, yaitu banyak siswa yang dengan cepat kehilangan minat mereka pada pelajaran, sehingga, pada akhir pelajaran mereka tidak dapat memahami dengan baik.

(3) Evaluasi (Penilaian) yang Bermasalah

Pada Rencana Pembelajaran, cara mengevaluasi tingkat pemahaman siswa selalu dijabarkan sebagai ”Penilaian” (pemberian skor). Pada Rencana Pembelajaran tadi, penjabaran semacam itu juga tercantum di dalamnya. Menurut penjabaran Rencana Pembelajaran tadi, guru memberikan 10 pertanyaan pada siswa dan kemudian memberi nilai jawabannya. Cara evaluasi semacam ini mungkin dapat memberikan informasi kepada guru tentang tingkat pemahaman siswa, tapi tidak lebih dari itu. Hal ini tidak memberikan informasi apapun kepada guru mengenai proses pembelajaran macam apa yang dialami masing-masing siswa, bagaimana mereka mengerti pelajaran dan di bagian mana mereka gagal. Informasi semacam ini penting bagi kita untuk meningkatkan proses pengajaran dan pendekatan dalam pengajaran kita. Namun, penilaian yang digunakan pada pelajaran tersebut tidak dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk kita. Sebaliknya, penilaian tersebut hanya memberikan informasi tentang siapa yang memperoleh nilai terbaik dan siapa yang memperoleh nilai terendah. Sebenarnya, informasi mengenai siapa yang memiliki kesulitan dalam memahami pelajaran harus diperoleh selama kelas berlangsung melalui pengamatan secara cermat kepada siswa secara individu, bukan melalui pemberian tes diakhir pelajaran. Guru harus lebih memberikan perhatian terhadap siswa secara individu selama kelas berlangsung untuk memahami situasi yang sebenarnya tentang pembelajaran mereka.

Masalah pada Pelaksanaan Pelajaran

Selama pelaksanaan pelajaran, kita juga dapat menemukan beberapa masalah penting yang menghalangi siswa untuk dapat memahami dengan lebih baik. Masalah tersebut, yaitu (1) Cara berpikir bahwa guru adalah pusat, (2) Tidak ada perhatian untuk siswa secara individu, serta (3) Tak ada bahan yang dapat siswa bawa pulang. Kita akan membahas masalah-masalah ini secara terperinci.

(1) Cara Berpikir bahwa Guru adalah Pusat

Pada pelajaran ini, dapat dikatakan bahwa guru bertindak dominan terhadap siswa. Guru selalu berusaha menerapkan pelajaran secara tepat dengan mengikuti rencana yang telah ia buat. Nampaknya guru tidak mempertimbangkan siswanya dan bagaimana pembelajaran mereka. Pada saat seorang siswa menuliskan jawabannya di papan tulis, guru sering menunjukkan kesalahan yang dibuat oleh siswa dan segera memberikan koreksi. Sebagai tambahan, pada saat siswanya sedang mengerjakan tugasnya, guru berkeliling kelas untuk memeriksa jawaban mereka. Begitu ia menemukan jawaban yang salah, ia segera menunjukkan kesalahan tersebut dan memberikan koreksi tanpa memberikan penjelasan apapun. Ini berarti bahwa guru memiliki keyakinan yang kuat bahwa siswanya harus mengerti dan harus menjawab dengan tepat. Jika ada siswa yang tidak mengerti, maka ini bukanlah kesalahan guru melainkan ini dikarenakan siswanya yang tidak cukup pintar. Dengan cara berpikir semacam ini, maka sangat tidak mungkin bagi guru untuk meninjau pelajarannya secara sungguh-sungguh dan mengklarifikasi masalah-masalah yang muncul dalam pelajarannya. Maka, tentu saja tidak mungkin bagi guru semacam itu untuk meningkatkan kualitas pelajarannya.

(2) Tidak ada perhatian pada siswa secara individu

Dapat terlihat jelas bahwa guru tidak memperhatikan siswa secara individu selama kelas berlangsung. Meskipun guru melihat pada siswa sepanjang pelajaran, namun matanya selalu berfokus pada siswa-siswa secara keseluruhan, bukan pada siswa secara individu. Pada kenyataannya, banyak siswa yang mengalami kesulitan dari awal hingga akhir. Pada awalnya,

ketika guru menjelaskan tiga pola kalimat tersebut, ada beberapa siswa yang menunjukkan ekspresi wajah yang sedang bosan dan dengan cepat mulai kehilangan konsentrasinya. Sebagai tambahan, ketika guru meminta siswa mengerjakan latihan, banyak dari siswa yang mengalami kesulitan dan melihat berkeliling dengan cemas. Namun, guru nampaknya tidak menyadari situasi ini. Meskipun ia berjalan mengelilingi kelas ketika siswa mengerjakan latihannya, ia tidak pernah membantu siswa walau mereka mengalami kesulitan. Sebaliknya ia malah menegur siswa yang tidak menjawab dengan benar. Akhirnya ia menuliskan jawaban yang benar pada lembar kerja siswa.

Sangat penting bagi kita untuk menyadari proses pembelajaran siswa secara individu; bagaimana mereka mempelajari pelajaran itu. Untuk melakukannya, kita harus memperhatikan siswa secara individu dengan seksama. Khususnya hal tersebut dapat menjadi kesempatan besar bagi kita untuk memahami proses pembelajaran siswa secara individu pada saat mereka sedang mengerjakan latihan. Guru harus memperhatikan ekspresi wajah dan sikap mereka untuk memperkirakan tingkat pemahaman mereka. Begitu kita menemukan siswa yang mengalami kesulitan, maka kita harus memberikan dukungan pada mereka sesegera mungkin

(3) Tak ada bahan yang dapat siswa bawa pulang

Dalam kelas, cukup banyak guru akhir-akhir ini yang menyiapkan LKS bagi siswanya. Pada situasi saat ini, banyak siswa yang tidak memiliki buku teks, maka LKS berperan sangat penting bagi siswa untuk memahami pelajaran. Pada pelajaran bahasa Inggris ini, guru juga menyiapkan sebuah LKS dan membagikannya untuk setiap siswa. Pada dasarnya hal ini bagus. Namun, pada akhir pelajaran, guru mengumpulkan seluruh LKS tersebut. Menurut guru tersebut, sangat penting mengumpulkan LKS tersebut karena ia harus memeriksa tingkat pemahaman siswa. Alasan ini mungkin dapat dipahami. Namun masalahnya disini adalah tidak ada bahan apapun yang tersisa ditangan siswa seusai pelajaran ini. Ada banyak siswa yang belum menyelesaikan LKS mereka. Untuk siswa-siswa tersebut, mungkin sangat penting bagi mereka untuk meninjau lagi LKS mereka di rumah. Mengumpulkan LKS siswa mungkin telah merampas kesempatan yang sangat penting itu dari siswa. Ketika kita berpikir tentang membuat pembelajaran siswa menjadi efektif, sangat penting untuk mempertimbangkan bahwa sebaiknya ada bahan yang dapat siswa peroleh seusai pelajaran, misalnya seperti catatan pada buku tulis mereka, selebaran materi, atau LKS. Hal ini merupakan keharusan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa pada situasi saat ini.

Masalah dalam Peninjauan Pelajaran

(1) Evaluasi pelajaran tidak cukup

Meskipun komentar-komentar di atas khusus untuk pelajaran bahasa Inggris, namun komentar-komentar tadi menunjukkan dengan jelas karakteristik evaluasi pelajaran kita. Komentar yang diungkapkan guru model selalu seperti “Secara umum, pelajaran berjalan dengan baik walaupun ada beberapa masalah.” Tidak ada komentar khusus tentang bagaimana pelajaran tersebutberjalan dengan baik dan apa saja masalah-masalahnya. Bahkan jika diminta untuk memberikan komentar yang lebih nyata, mereka biasanya tidak dapat menjawab dengan jelas. Ini berarti bahwa guru model sendiri tidak dapat melihat pelajarannya sendiri dengan objektif dan mengevaluasinya dengan tepat

Jadi, apa alasan untuk hal tersebut? Satu alasan utama adalah kebanyakan dari kita cenderung memahami pelajaran sebagai suatu “pekerjaan”, yang harus dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk yang diberikan (Rencana Pembelajaran). Dengan pendapat semacam ini, sebuah pelajaran menjadi suatu proses pekerjaan sederhana dan hanya perlu untuk melaksanakannya dengan tepat tanpa ada kesalahan. Sehingga, fokus kita selalu tentang apakah guru mengikuti Rencana Pembelajaran dan mencakup seluruh materi untuk diajarkan sesuai Rencana Pembelajaran. Jika guru mengikuti Rencana Pembelajaran dan telah mencakup seluruh materi pengajaran, maka kita akan mengevaluasinya dengan “Pelajaran hari ini berjalan dengan baik.” Sebaliknya, jika guru tidak dapat mengikuti Rencana Pembelajaran dan tidak mencakup seluruh materi pengajaran yang direncanakan maka kita akan mengevaluasinya dengan “Pelajaran hari ini berjalan dengan baik pada beberapa poin, namun masih ada masalah yang terjadi.” Dalam sudut pandang semacam ini mengenai pelajaran, maka kita tidak dapat melihat realitas dari pelajaran dan menganalisisnya dengan mendalam.

(2) Analisis terhadap pembelajaran siswa tidak cukup

Sebagaimana yang telah kita ketahui, sangat penting untuk menganalisis suatu pelajaran dari sudut pandang pembelajaran siswa. Dengan kata lain, bagaimana siswa belajar dan apa yang telah mereka peroleh pada akhir pelajaran merupakan hal-hal kunci untuk menganalisis dan mengevaluasi kualitas pelajaran. Kebanyakan dari kita mengobservasi siswa selama kelas berlangsung, namun hal itu hanyalah permukaan dari pelajaran dan aspek yang dapat terlihat, bukanlah realitas dari pembelajaran siswa. Sebagai contoh, sepanjang kelas berlangsung kita dapat mengobservasi dengan mudah siswa No. 1 dan 8 merasa bingung ketika guru menjelaskan tiga pola kalimat. Meskipun ini bagian dari realitas pembelajaran siswa, namun temuan ini tidak berguna sama sekali untuk peningkatan pelajaran lebih jauh lagi. Hal ini dikarenakan tidak adanya analisis mengenai mengapa siswa tersebut merasa bingung. Kita harus memberikan usaha terbaik kita untuk menangkap realitas dari pembelajaran siswa secara tepat dan untuk mencaritahu masalah-masalah dan alasannya melalui analisis pada observasi kita.

Sumber referensi:

Dimyati & Mujiono, 2006 Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta Jakarta

Hasanah, Uswatun. 2009. Perbandingan Efektifitas Pembelajaran Konvensional Dengan pembelajaran Koopratif Model NHT pada Pembelajaran IPS- Sejarah Untuk Meningkatkan hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP N 17 Malang. Skripsi Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu sosial UM.

Huda, Miftahul. 2009 Tantangan-Bagi-Guru-Menciptakan-Pembelajaran-Yang-Menyenangkan (Online) http://aksiguru.org/2009/12/04/tantangan-bagi-guru-menciptakan-pembelajaran-yang-menyenangkan/

TIM JICA. 2009. Panduan Untuk Peningkatan Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: PELITA.

Popham J & Eva L. 2005  Baker Teknik mengajar secara sistematis. Rineka Cipta Jakarta

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang system  Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Sinar Grafika, Jakarta, 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: