Bersama Kita Bisa…Bersama Kita Mudah

Oemar Hamalik (1990:21) menyatakan, belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dan perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam caracara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Belajar yang dilakukan manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan dimana saja, baik di sekolah, di kelas, di jalanan dalam waktu yang tak dapat ditentukan sebelumnya
Menurut Supriyadi (2005:12) menyatakan: “kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa untuk membangun makna atau pemahaman terhadap suatu objek atau suatu peristiwa. Sedangkan kegiatan mengajar merupakan kegiatan dalam upaya menciptakan suasana yang mendorong inisiatif, motivasi, dan tanggung jawab pada siswa untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan melalui kegiatan belajar sepanjang hayat“
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:2). Pembelajaran merupakan perpaduan antara kegiatan pengajaran yang dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, interaksi antara guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta dapat memotivasi peserta didik sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan.
Dalam pembelajaran biologi terdapat interaksi antara guru dengan murid, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai peserta didik. Biologi sebagai salah satu mata pelajaran yang dipelajari di sekolah sampai sekarang, prestasi belajar yang dicapai untuk mata pelajaran biologi ini masih tergolong rendah. Padahal sudah banyak usaha yang dilakukan guru dan sekolah supaya prestasi belajar biologi dapat meningkat lebih baik. Pada pembelajaran biologi seringkali siswa merasa kesulitan memahami pelajaran yang diberikan guru, siswa kurang antusias untuk mengikuti pelajaran biologi bahkan menjadikan biologi sebagai mata pelajaran yang paling menakutkan bagi mereka. Hal ini terjadi karena sampai saat ini masih banyak guru biologi menggunakan metode pembelajaran yang disebut metode konvensional, yaitu guru membacakan atau memberikan bahan yang disiapkannya sedangkan siswa mendengarkan, mencatat dengan teliti dan mencoba menyelesaikan soal sebagai mana yang dicontohkan oleh guru. Hal tersebut menjadikan siswa pasif.
Pembelajaran biologi seharusnya siswa haruslah aktif belajar sehingga mempunyai kemampuan untuk mengembangkan kreatifitasnya serta lebih dapat memahami pelajaran dan terampil dalam menyelesaikan permasalahan biologi. Oleh sebab itu guru hendaknya mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran yang mampu merangsang siswa lebih aktif dalam belajar serta meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami pelajaran. Kegiatan pembelajaran tidak lain ialah pelaksanaan proses menterjemahkan dan mentransformasikan nilainilai yang terdapat dalam kurikulum kepada para siswa melalui interaksi belajar mengajar (Nana Sudjana, 1995 : 13).
Salah satu pembelajaran yang bisa mengembangkan aktivitas siswa adalah TGT. Slavin (2010:163) menjelaskan bahwa secara umum TGT sama saja dengan STAD kecuali satu hal: TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. Menurut Kahfi (2004:9) pembelajaran kooperatif tipe TGT meliputi 2 tahap. Yaitu pra kegiata pembelajaran dan detail kegiatan pembelajaran. Pra kegiata pembelajaran meliputi penyajian materi, membagi siswa dalam kelompok belajar, dan membagi siswa pada meja tournamen. Detail kegiatan pembelajaran meliputi: (1) mengajar (teach), (2) belajar kelompok (team teach), (3) permainan (tournament).

Tahapan pembelajaran kooperatif tipe TGT menurut Slavin dan De Vries, (dalam Kusumaningsih 2009:87) antara lain:
1). Persiapan Pembelajaran
Untuk tipe TGT penyusunan materi pelajaran dibuat sedemikian rupa dengan maksud agar dapat disajikan dalam presentasi kelas, belajar kelompok, dan tumamen akademik. Bentuk persiapan tersebut dapat dikemas dalam satu perangkat pembelajaran yang terdiri rencana pembelajaran, bahan ajar, lembar kerja, persiapan turnamen.
2). Pelaksanaan Pembelajaran
Pembelajaran TGT mempunyai beberapa kompone? untuk mendukung pelaksanaan yaitu: presentasl kelas, kelompok belajar, tumemen, penghargaan (Rahadi, 2002:16)
Berikut ini dipaparkan mengenai masing-masing komponen.
a). Presentasi Kelas
Pada kegiatan ini guru memperkenalkan materi pelajaran yang akan dibahas, yaitu dengan cara pengajaran langsung, diskusi atau dapat dengan metode lain. Hal yang perlu diperhatikan dalam presentasi kelas ini berbeda dengan presentasi biasa, karena presentasi kelas pada pembelajaran kooperatif tipe TGT yang disampaikan hanya menyangkut pokok-pokok materi dan penjelasan tentang teknik pembelajaran yang akan digunakan.
b). Kelompok
Sebuah kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT dibentuk dengan beranggotakan 4 sampai 6 orang siswa terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan akademik berbeda dan mempertimbangkan kriteria heterogen jenis kelamin, kemampuan akademik, suku, latar belakang sosial). Pada penelitian ini pengelompokan siswa mempertimbangkan jenis kelamin dan kemampuan akademik berdasarkan nilai ujian prates sebelumnya. Cara menentukan anggota kelompok diantaranya adalah sebagai berikut:
(a). Menentukan peringkat siswa.
(b). Menentukan jumlah kelompok.
3). Pelaksanaan Belajar Kelompok
Perangkat pembelajaran yang diperlukan yaitu bahan ajar, kegiatan utama pada tahap ini adalah siswa mempelajari bahan ajar sesuai dengan materi yang sedang dipelajari dan mengerjakan lembar kerja secara kelompok. Perlu ditekankan pada siswa bahwa ada aturan dasar dari belajar kelompok agar tercapai dengan baik, yaitu:
a. Siswa mengatur bangku dan duduk sesuai kelompok.
b. Siswa diberikan waktu untuk memilih nama kelompok
c. Siswa diharuskan bekerja secara kelompok.
d. Siswa menghentikan belajamya jika semua anggota kelompok telah memahami materi yang sedang dipelajari, atau telah menjawab semua soal yang ditugaskan atau waktu yang telah disediakan untuk mempelajari materi yang ditugaskan telah habis.
e. Ketika semua siswa sedang belajar bersama kelompok sebaiknya guru berkeliling dalam kelas memperhatikan cara kerja mereka dan memberikan bimbingan belajar jika memang diperlukan.
4). Turnamen Akademik
Tumamen. akademik dilakukan setiap akhir sesi pembelajaran, bertujuan untuk menguji pemahaman siswa setelah belajar berkelompok.

Seperti halnya metode pembelajaran yang lain TGT juga mempunyai kelebihan dan kekurangan, kelebihan TGT antara lain:
a. Keterlibatan siswa dalam belajar mengajar
b. Siswa menjadi semangat dalam belajar
c. Pengetahuan yang diperoleh siswa bukan semata-mata dari guru, tetapi juga melalui konstruksi oleh siswa itu sendiri
d. Dapat menumbuhkan sikap positif dalam diri sendiri seperti:kerjasama, toleransi, dan bisa menerima pendapat orang lain.
Sedangkan kekurangan TGT diantaranya adalah:
a. Bagi para pengajar pemula, model ini menumbuhkan waktu yang banyak
b. Membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai seperti persiapan soal turnamen
c. Siswa terbiasa belajar dengan adanya hadiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: