Bersama Kita Bisa…Bersama Kita Mudah

Kado Kecil

Sebut saja nama nya Pak Aly, guru muda yang baru lulus dari bangku kuliah. Tubuhnya yang hanya 163 itu tidak membatasi nya untuk menjadi sosok yang pekerja keras. Gesit dan mempunyai kemauan yang besar untuk menjadi sosok yang berprestasi. Sejak kecil memang selalu memperoleh prestasi. Itu lah sosok pak Aly guru muda yang selalu ingin berprestasi.

Lulus kuliah beliau pun langsung mencoba melamar pekerjaan. Lulusan terbaik universitas ini teryata begitu kesulitan mencari tempat mengajar. Tidak hanya satu atau dua sekolah yang sudah didatanginya melainkan sudah 10 sekolah yang sudah dikirimi surat lamaran pekerjaan. Anehnya ke 10 sekolah itu adalah sekolah-sekolah yang dinaungi oleh DEPAG. Ya, Aly memang ingin mengajar di DEPAG, bukan karena ia anti DINAS, tetapi ada misi khusus kenapa ia ingin mengabdikan diri di DEPAG. Saat kuliah, Aly ingin menlanjutkan S2 namun karena kondisi keluarga yang belum memiliki biaya maka untuk mewujudkan keingiinannya tersebut Aly pun mencoba mencari beasiswa dari DEPAG, itulah salah satu alasan mengapa ia mengrimkan surat lamaran ke sekolah-sekolah yang dinaungi DEPAG.

Awal Juli Aly mendapatkan sms dari teman, ada tawaran mengajar, tapi tempatnya jauh dari rumah, kondisi daeerahnya didaerah pedalaman. Itulah yang membuat Aly bimbang untuk mengambilnya. Sebagai anak bungsu, tentu saja Aly harus bermusyawarah dengan keluarga, ortu, kakak membrikan pertimbangan untuk mengambilnya. Pagi2 setelah sholat subuh, Aly pun memberikan jawaban untuk menerima tawaran kerja tersebut. Aly sebenarnya bukan takut karena harus mengajar dipedalaman, tetapi karena ia takut tidak bisa mengembangkan ilmunya karena didaerah tersebut tidak ada internet seperti dirumahnya, jangan internet, jaringan listrikpun konon tidak ada itulah yang diceritakan temannya ketika menawarkan tempat tersebut.

Tanggal 6 Juli 2009 itulah pertama kali Aly menginjakkan kaki nya didaerah pedalaman yang akan ia jadikan tempat mengajar. Panas ….berdebu itulah yang ia rasakan, daerah yang sangat asing tentunya, daerah pedalaman yang banyak ditumbuhi pohon sawit dan karet. Aly berfikir apakah ia akan betah didaerah tersebut, tidak ada sodara,tidak ada keluarga yang bisa diajaknya berbagi, namun ia tidak ingin menyerah dan pulang dengan tangan hampa. Aly terus meyakinkan diri untuk berjuang didaerah itu. Dalam hati ia berkata, saya adalah guru, dimana pun saya mengajar saya harus siap menerimanya, ini adalah suatu tantangan, saya datang, saya mainkan dan saya akan memenangkannya, Aly senyum2 sendiri ketika dibonceng kakaknya melintasi derah pedalaman tersebut.

16 Juli, tanggal pertama Aly bertemu dengan rekan-rekan kerja, Alangkah kagetnya ketika dia mendengarkan cerita dari salah satu guru, Pak Giarto namanya. Umurnya yang ga jauh berbeda mungkin itulah salah satu sebab mengapa Aly dan Giarto bisa cepat akrab. Pak Giarto bercerita bahwa kepala sekolah disini sangat galak, hampir setiap ada disekolah selalu mencari kesalahan-kesalahan guru-guru., jadi jangan kaget kalo tau2 beliau (kepsek) marah2 ya…itulah cerita singkat yang Pak Giarto sampaikan.

Hari demi hari Aly pun mengajar di sekolah itu, sekolah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, hanya deru mobil-mobil truk pengangkut kelapa sawit. Suatu saat Aly ingin melatih anak-anak didiknya ikut olimpide sains. Olimpiade memang masih lama,tetapi Aly ingin menjadikan anak didiknya berprestasi, maka jauh2 hari mereka dibiasakan dengan materi-materi olimpiade. Bersama ke 4 anak olimpiadenya (Firda, Irwan, Gun, dan Juarti) setiap 3 hari dalam seminggu belajar bersama di laboratorium sekolah. Tentu saja kegiatan belajar Olimpiade ini tidak digaji oleh pihak sekolah,karena memang datang dari Aly yang ingin anaknya berprestasi.

Buku yang digunakan pun sangat terbatas, hanya ada beberapa buku yang bisa digunakan di perpus sekolah. Beda dengan sekolah-sekolah unggulan lainnya yang memiliki fasilitas lebih banyak. Tapi tekad Aly yang ingin mengajak anak2nya berprestasi tidak lantas surut. Aly sebagai guru muda berusaha memotivasi ke 4 anak didiknya.

“Mempertahankan prestasi itu lebih sulit daripada mengejar prestasi, kita berada di pedesaan tapi jangan kalah dengan anak2 kota. Kita tunjukkan bahwa kita bisa berprestasi”, sepenggal kata motivasi yang Aly tanamkan ke 4 anak didiknya. Aly menyadari bahwa anak didiknya memiliki salah satu kelamahan yaitu kurangnya percaya diri, maka Aly harus senantiasa memotivasi ke 4 anak didiknya untuk terus semangat mempersiapkan diri menjelang olimpiade.

Banyak yang guru yang menertawakan kegiatan yang dilakukan oleh Aly dan ke 4 anak didiknya,menurut guru yang lain, kenapa harus capek2 belajar olimpiade, jika sudah tau hasilnya akan kalah, untuk apa membimbing olimpiade jika tidak ada bayarannya.

Aly hanya bisa senyum simpul ketika beberapa guru mengejeknya, ya inilah tantangan kata Aly, hidup memang selalu indah jika dihiasi dengan mimpi, dan mimpi saya saat ini adalah membawa anak2 berprestasi.

Akhirnya tiba lah saat olimpiade sains itu diselenggarakan, Aly hanya bisa mengirim 2 anak didiknya ke Olimpiade, tentu saja Aly memilih dua orang yang dianggap lebih senior,bukan berarti dua anak didik yang lain tidak mampu bersaing, tapi memang yang kelas 1 disiapkan untuk mengikuti Olimpiade tahun depannya. Pagi hari jam 05.30 Aly dan rombongan olimpiade sekolah berangkat menuju tempat diselenggarakannya olimpaide sains. Kira2 70km jarak yang harus ditempuh. Tentu saja anak didiknya yang jarang naek mobil pasti mabok darat. Sebuah kondisi yang tidak pernah Aly duga sebelumnya jika anak2 didiknya akan mabok.

2 jam kemudian sampai lah rombongan ke lokasi,Aly menghampiri kedua anak didiknya,kemudian memberikan motivasi, lakukan apa yang bisa kamu lakukan hari ini, jika bisa beri yang terbaik, berikanlah yang terbaik. Tidak ada usaha yang akan sia-sia. Kita telah berjuang selama ini dan hari ini adalah hari yang kita tunggu. Jangan takut ….jangan minder….liatlah lawan kalian semua memakai seragam yang sama “putih abu-abu”. Saat nya kita tunjukkan bahwa orang pedalaman tidak akan kalah dengan perkotaan. Jangan jadikan beban apa yang kita kerjakan hari ini.

Beberapa jam kemudian Kepala sekolah menghampiri Aly,

Beliau berkata, “selamat siapkan anak didik ke tingkat provinsi. Kita juara 1”.

Aly hanya bisa tersenyum, dan memanggil anak didiknya, salah satu dari kalian mendapat juara 1, Firda siapkan diri untuk maju tingkat provinsi, hari ini adalah hari yang istimewa bagi saya, sangat senang ketika kamu bisa memberikan satu kado kecil untuk perjuangan kita selama ini. Perjuangan yang tidak pernah sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: